Minggu, 21 Agustus 2022

Persiapan Lahan Menyambut Musim Tanam, Herbisida Masih Menjadi Pilihan

 Berdasarkan siklus yang biasa dilalui oleh para petani, bulan Agustus sudah terhitung sebagai bulan untuk melakukan berbagai macam persiapan pada lahan yang akan ditanami jagung. Banyak diantara mereka kini tengah sibuk menyiapkan berbagai macam kebutuhan baik pupuk maupun pestisida. Namun pada saat ini, mereka lebih memilih untuk mengangkut pupuk kompos dari kotoran hewan untuk dijadikan sebagai pupuk dasar. 

  Tidak hanya berupa pupuk dasar yang mereka siapkan, pembersihan lahan dari rumput liar juga dilakukan. Beberapa petani melakukan dengan cara manual yang sering di sebut "BESIK", namun mayoritas petani memilih menggunakan berbagai macam herbisida yang tersedia di pasaran. Herbisida menjadi pilihan dikarenakan efisiensi dan efektifitas yang lebih tinggi daripada cara manual, terlepas dari efek samping yang ditimbulkan juga lebih besar.

  Berbicara soal herbisida, ada dua metode cara kerja herbisida yang digunakan, yaitu secara sistemik (selektif dan non selektif) dan kontak. Untuk masa persiapan ini jenis herbisida sistemik yang digunakan adalah non selektif dikarenakan tidak ada tanaman pertanian kecuali rumput liar. 

  Berikut ini beberapa produk herbisida yang termasuk dalam kategori sistemik non selektif : 

1. Gempur

Herbisida yang di produksi oleh Petrokimia Kayaku ini memiliki kandungan isopropil amina glisofat sebesar 480 g/liter (setara dengan glisofat 356 g/liter). Kandungan ini cukup ampuh untuk membunuh rumput liar hingga ke akar dengan takaran 160 ml/14 liter air. Untuk saat ini gempur dijual dengan harga pasaran Rp 96000/ kemasan 1 liter

2. PlANEUP

 Planeup memiliki dosis yang sama dengan gempur, namun memiliki harga yang lebih rendah yaitu Rp 84000/kemasan 1 liter

3. Fajaris

  FAJARIS memiliki kandungan yang sama dengan gempur dan fajaris namub dengan dosis yang lebih rendah yaitu 240 g/liter, sehingga untuk mendapatkan hasil yang sama harus menggunakan volume 320 ml /14 liter. Saat ini harga dipasaran adalah sebesar Rp 58000/kemasan 1 liter.














Minggu, 31 Juli 2022

Cara Menentukan Bibit Cabai Yang Baik

    Cabai merupakan komoditas pertanian yang cukup menjanjikan dalam beberapa tahun terakhir ini lantaran harga yang tinggi yang bersamaan dengan musim panen. Sehingga tidak sedikit petani yang menganggap bahwa harga cabai tinggi merupakan berkah tersendiri yang mereka dapatkan. Hal ini disebabkan karena cabai yang saat ini mereka panen bukan merupakan tanaman utama, melainkan tanaman sekunder dalam sistem tumpang sari yang mereka terapkan.

    Ada banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan dalam menanam cabai hingga menentukan harga jual dipasaran, diantaranya adalah pemilihan benih cabai yang berkualitas, proses penyemaian, proses penanaman, proses perawatan, dan juga mensiasati harga proses pelepasan cabai ke pasar. Namun pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang bagaimana cara menentukan bibit cabai yang baik dan apa pengaruhnya terhadap harga cabai.

    Ada berbagai macam bibit cabai yang dijual dipasaran. Petani dapat memilih bibit tersebut sesuai selera dan kemampuan mereka. Hal ini dikarenakan harga benih cabai yang dijual dipasaran juga relatif mahal. Namun banyak diantara mereka lebih memilih untuk membeli bibit yang telah disemaikan meskipun memiliki harga yang lebih mahal lantaran tidak memiliki risiko tidak tumbuh pada saat proses penyemaian.

    Hal yang sangat penting untuk diketahui sebelum menyemaikan atau membeli persemaian adalah mengetahui jenis induk dari cabai yang disemaikan, agar nantinya cabai yang kita tanam bukan merupakan cabai yang memiliki memiliki harga jual rendah. Contohnya adalah jenis cabai dengan bentuk yang pendek dan gemuk. Berdasarkan pengalam harga cabai ini memiliki nilai jual setengah dari jenis cabai rawit yang memanjang (dikarenakan ketahanan cabai saat proses pengiriman). 

    Untuk itu berikut ini langkah-langkah untuk membuat benih cabai yang berkualitas dari kebun sendiri:

  1. Pilih dan Petik Cabai yang memiliki panjang 3-4 cm yang telah masak (berwarna merah) seperti pada gambar diatas.
  2. Jemur dibawah terik matahari hingga benar-benar kering. 
  3. Kupas cabai untuk memisahkan biji cabai dari kulitnya
  4. tempatkan wadah berupa plastik untuk penyimpanan biji agar terhindar dari kelembaban atau terkena air
  5. Simpan benih cabai tersebut ditempat yang kering
    Langkah-langkah tersebut merupakan cara untuk mendapatkan jenis cabai yang baik agar hasil yang didapatkan baik pula. Tahap pemilihan dan proses persiapan benih ini sangat penting untuk dilakukan lantaran  jenis cabai berpengaruh terhadap pedapatan petani meskipun dengan perawatan yang sama.

    Demikian tips dari Petani Sugiharjo dalam memilih bibit cabai yang baik. Jika sahabat tani memiliki pandangan lain bisa disampaikan lewat kolom komentar.

Semoga bermanfaat...


Senin, 11 Juli 2022

Harga Cabai Tinggi, Berkah dan Ketekunan Petani

    Dalam beberapa bulan terakhir ini, mulai Mei hingga saat ini (Juli 2022) harga beberapa komoditas pertanian mengalami kenaikan yang cukup signifikan seperti cabai, jagung, tomat dan bawang. Kenaikan ini menjadi berkah bagi petani setelah proses penanaman yang cukup susah untuk dilakukan khusunya bagi petani cabai di Desa Sugiharjo Kecamatan Tuban.

    Sebagian lahan pertanian yang berada di Desa Sugiharjo ini merupakan lahan tadah hujan atau sering disebut "Tegalan". Umumnya tanaman-tanaman unggulan didaerah ini adalah jagung, kacang tanah dan cabai yang mana metode penanaman yang dilakukan adalah metode tumpang sari seperti jagung dengan cabai atau kacang tanah dengan cabai. Metode ini diharapkan dapat meningkatkan hasil pertanian mengingat jangka waktu bertani yang hanya dalam setengah tahun saja.

    Penanaman cabai dilakukan kurang lebih sebulan setelah penanaman jagung atau kacang tanah. Meskipun penanaman cabai dilakukan pada musim penghujan, namun tidak semua tanaman cabai tersebut dapat bertahan hidup atau mati hanya beberapa hari setelah ditanam. 

    Salah satu petani yang juga mengalami hal tersebut adalah Rasidan (62). Pada musim ini Pak Rasidan menanam cabai pada 3 petak lahan, namun 1 dari 3 petak tersebut tidak tersisa tanaman cabai karena mati. Sementara 2 petak yang lainnya dapat bertahan dan berbuah hingga sekarang. Itupun sudah melalui proses sulam yang menghabiskan 2 gulut (tempat peyemaian benih cabai berukuran 1 meter x 12 meter). 

    Tidak cukup sampai disitu, setelah tanaman cabai hidup serangan hama dan penyakit datang silih berganti mulai dari tikus dan penyakit antraknosa. Beberapa cara telah dilakukan oleh Pak Rasidan dan petani sekitarnya dalam mengatasi masalah ini, seperti pengendalian hama tikus dan penyemprotan yang dilakukan secara berkala setiap 10 hari sekali. Usaha-usaha tersebut dilakukan tentunya dengan modal yang tidak hanya berupa tenaga namun juga biaya yang cukup tinggi.

    Bak kemarau panjang tersiram hujan, para petani merasa senang lantaran usaha mereka yang cukup sulit dan melelahkan terbayar dengan harga cabai yang sangat tinggi dibandingkan 4 tahun yang lalu. Harga cabai yang berkisar Rp 70.000/kg menjadikan penghasilan mereka meningkat. Meskipun cabai ini sebagai tanaman sekunder namun dengan kerja keras dan efektif hasil yang didapatkan tidak kalah dengan tanaman primer.

    Hasil ini dapat dinikmati hingga tanaman cabai yang tidak lagi produktif dikarenakan tidak ada lagi hujan, biasanya pada bulan Agustus. Jadi tidak berlebihan jika apa yang didapatkan petani saat ini merupakan anugrah Allah SWT dan hasil ketekunan dalam mempertahankan kelangsungan tanaman cabai mereka. 

Persiapan Lahan Menyambut Musim Tanam, Herbisida Masih Menjadi Pilihan

 Berdasarkan siklus yang biasa dilalui oleh para petani, bulan Agustus sudah terhitung sebagai bulan untuk melakukan berbagai macam persiapa...